Pemahaman Konsep Volume Bola dengan Model Pembelajaran Kontruktivisme dan Kontektual pada Siswa Kelas III SMP

Pemahaman Konsep Volume Bola dengan Model Pembelajaran Kontruktivisme dan Kontektual pada Siswa Kelas III SMP

Setya Dewi

Abstrak: Students’ changing attitude should be appeared in learning and teaching process.The effective learning would be happened if the teacher placed himself as a fasilitator and let his students be active and creative to find the concept of the knowledge they were learning. It is suggested that the teching material should prepared a problem to be solved and the class atmosphere should be fun, and not frightening. The students asked to be able to construct their knowledge to find the core of the learning they got until they knew the goal of the learning. The teaching model used must be matched with the topic. In teaching volume and total survace area, the writer chose contructive and contextual teaching model. In this teaching model students would do a practice activities to find the pattern of the volum of a sphere by themselves.

Key Words: contructive learning, active, creative and fun

Sebagaimana yang sudah diketahui, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang cukup memusingkan. Hal ini tidaklah mengherankan karena selama ini pembelajaran matematika masih bersifat konvensional dan monoton. Guru lebih aktif berceramah dibandingkan dengan siswa. Akibatnya, perasaan bosan belajar matematika sewaktu-waktu bisa muncul pada diri siswa. Untuk mengimbangi kebosanan tersebut maka sudah tidak ada cara lain bagi siswa dalam memahami konsep matematika melainkan dengan cara menghafal.
Fakta seperti yang tersebut di atas tenyata dapat memunculkan persepsi siswa yang selalu mengidentikkan matematika dengan rumus. Rumus-rumusyang ada harus dihafal tanpa harus mengetahui tahapan penemuan dan manfaat rumus tersebut. Karena rumus hanya dihafal, maka banyak siswa mengalami kesulitan menerapkan dan memilih rumus tersebut dalam menyelesaikan soal. Terlebih lagi ketika sis wa diminta menyelesaikan beberapa soal pengembangan yang model dan bentuknya tidak seperti contoh soal yang diberikan pada saat guru menerangkan materi tersebut. Akibatnya, prestasi belajar siswa dipastikan jauh dari yang diharapkan.
Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan guru dalam mengembangkan pembelajaran matematika, yaitu guru setidaknya harus mengetahui hakikat matematika, hakikat anak, dan cara mengajarkan matematika yang berdasar pada teori yang ada. Ketiga hal tersebut sangat diperlukan bagi guru agar dasar dan tujuan pengajaran menjadi jelas.
Volume bangun ruang adalah sebagian kecil dari materi matematika kelas 3 SMP yang dinilai sulit dipahami siswa, tidak terkecuali materi volume bola. Kesulitan ini dikarenakan banyak dan rumitnya rumus yang harus dipahami siswa. Timbulnya persepsi tersebut karena siswa tidak dilibatkan secara langsung dalam menemukan rumus. Salah satu mo del pembelajaran yang dapat memberikan kesempa tan kepada siswa menemukan rumus volume bola adalah model pembelajaran konstruktivisme dan kontekstual. Dengan menerapkan model pembelaja ran ini diharapkan pembelajaran volume bola yang semula sulit dipahami menjadi menarik, menyenang kan, dan mudah dipahami. Tentu saja di waktu yang akan datang diharapkan siswa merasa senang belajar matematika.
Pemahaman belajar matematika dalam panda- ngan konstruktivistik bisa jadi murid memiliki pe-
mahaman berbeda terhadap pengetahuan matematika bergantung kepada pengalamannya dan perspektif yang dipergunakan dalam menginterpretasikan pe-
ngalaman itu. Keanekaragaman pemahaman dan pe- ngetahuan itu bisa benar atau salah, guru tidak seha-rusnya memaksakan pemahaman yang seragam ke-pada seluruh muridnya. Dari pengalaman yang diala mi oleh siswa, guru mendorong untuk membangun pemahaman matematika yang benar melalui berbagai kegiatan pembelajaran produktif.
Lingkungan belajar matematika dalam pandangan konstruktivistik meliputi (1) menyediakan pengalaman belajar matematika yang dapat mengaitkan pengetahuan matematika yang sudah dimiliki siswa sehingga guru bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan melainkan fasilitator, (2) menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar yang berbeda-beda, (3) mengiterpretasikan pembelajaran dengan situsasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret, (4) merancang pembelajaran terjadi interaksi dan kerjasama seseorang dengan lingkungannya melalui diskusi, kerja kelompok kecil, diskusi kelompok, penemuan, dan tanya jawab, (5) memanfaatkan berbagai media sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif, dan (6) melibat-
kan murid secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan murid mau belajar (Kahfi, 2004).
Prosedur pembelajaran konstruktivitik dalam kelas mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: (1) cari dan gunakan pertanyaan dan gagasan siswa untuk menuntun pelajaran, (2) biarkan siswa mengemukakan gagasannya, (3) kembangkan kepemimpi nan, kerjasama, pencarian informasi, dan aktivitas siswa sebagai hasil proses belajar, (4) gunakan pemikiran, pengalaman, dan minat siswa untuk mengarahkan proses, (5) kembangkan penggunaan alternatif sumber informasi buku paket atau bahan para pakar, (6) usahakan agar siswa mengemukakan sebab-sebab terjadinya peristiwa dan dorong untuk memprediksi akibatnya, (7) carilah gagasan siswa sebelum mempelajari buku teks atau sumber lain, (8) buatlah siswa tertantang dengan konsep dan gagasan mereka sendiri, (9) sediakan waktu yang cukup untuk berefleksi, menganalisa dan menggunakan semua gagasannya, dan (10) doronglah siswa untukmelakukan analisis, mengumpulkan bukti nyata untuk mendukung gagasan dan pengetahuan baru yang dipelajarinya (Kahfi, 2004).

METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian ini dirancang sedemikian rupa sehingga
guru bertindak sebagai fasilitator. Pembelajaran disesuaikan dengan tingkat berpikir anak didik dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajardengan pengelolaan tempat belajar yang terorganisir,lingkungan serba bicara, dan penilaian yang sebenarnya.
Pembelajaran ini dirancang sedemikian rupasehingga guru harus mengetahui pengetahuan awal
siswa untuk dijadikan dasar bagi informasi baru. Pengetahuan baru diperoleh dari pengalaman dalam pengajaran secara lengkap. Dengan demikian siswamenyelidiki dan menguji semua kemungkinan dengan cara bekerja kelompok, kemudian hasil kelompokdipresentasikan. Untuk itu siswa perlu mempraktekkan pengetahuan dengan cara pemecahan masalah,harus diterapkan secara luas, dan direfleksikanPopulasi penelitian ini adalah siswa kelas 3 SMP Nasional KPS Balikpapan. Sampel penelitian ini adalah kelas 3-4 sebagai kelas perlakuan dan kelas 3-1 sebagai kelas pembanding. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi wawancara, pengamatan, dan tes.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penerapan
Sebelum memulai pembelajaran, guru memba gi kelas menjadi beberapa kelompok dengan anggota antara tiga sampai dengan lima siswa. Setelah itu guru, memberikan beberapa bahan percobaan seperti bola plastik diameter sedang, kertas karton satu lembar, beras, gunting, dan lem/selotip. Untuk menanggulangi terhambatnya pembelajaran akibat bahantidak terdistribusi secara merata, guru memeriksa kelengkapan setiap kelompok. Perlu diketahui bahwakeseluruhan pembelajaran model ini menggunakanLembar Kerja Siswa (LKS) yang dibagikan kepadamasing-masing kelompok.
Langkah selanjutnya yaitu meminta siswa memulai kegiatan kelompoknya. Secara umum, lankah-langkah pembelajaran dapat dilihat pada langkah-langkah berikut: (1) siswa membelah menjadidua yang sama, kemudian diukur diameter bola, (2)siswa menentukan jari-jari bola, (3) siswa membuattopi berbentuk kerucut dari kertas karton dengan diameter sama dengan diameter bola dan tinggi samadengan jari-jari bola, (4) siswa mengisi topi tersebutdengan beras hingga penuh, kemudian tuangkan kedalam belahan bola sampai penuh, (5) siswa mengisilangkah-langkah pada LKS sehingga siswa dapatmenentukan rumus volume bola, (6) hasil kelompokditempelkan di papan tulis, (7) salah satu kelompokmempresetasikan hasil kerja kelompoknya sedangkan kelompok yang lain menanggapi, dan (8) bagikelompok yang paling bagus hasil penyajian danselesai tepat waktu diberi bintang sebagai penghargaan.
Selanjutnya guru meminta siswa secara berkelompok membuat kesimpulan dari percobaan yangmereka lakukan yang terdiri atas (1) berapa kali mereka menuangkan beras sehingga belahan bola pe-nuh, (2) mencari perbandingan volume bola dan volume kerucut sehingga medapatkan hubunganvolume bola = … × volume kerucut, dan (3) menuliskan rumus volume bola. Untuk mematangkan pemahaman siswa, guru memberikan beberapa soalyang harus diselesaikan dengan rumus yang telahmereka temukan.
Pembelajaran ini diakhiri dengan meminta setiap siswa membuat laporan tertulis secara individuyang berisikan langkah-langkah yang siswa lakukandan beberapa pengalaman yang dialami sehinggamendapatkan rumus volume bola. Ini sangat pentinguntuk mengukur sejauh mana siswa dapat mempelajari dan memahami konsep volume bola dengan bekerja kelompok.

Hasil
Ternyata, model pembelajaran memberikan hasil yang cukup memuaskan dibandingkan kelas lainyang tidak menggunakan model pembelajaran ini.Berikut ditampilkan nilai kelas yang menggunakanmodel kontruktivisme dan kontekstual (kelas eksperimen) dan kelas yang tidak menggunakan modelkontruktivisme dan kontekstuan (kelas pembanding).

Tabel Daftar Nilai Ulangan Bangun Ruang

Dari tabel di atas padat dilihat bahwa siswa kelas 3-4 yang menggunakan model pembelajarankonstruktivisme dan kontektual mendapatkan nilaidengan rata-rata 61,39. Hal ini cukup menggembirakan dibandingkan dengan kelas 3-1 yang tidakmenggunakan model ini yang hanya memperolehrata-rata nilai kelas sebesar 23,04.

Pembahasan
Secara umun dalam pembelajaran model inisiswa melakukan beberapa hal antara lain (1) siswamempersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk me-laksanakan percobaan, (2) siswa aktif melaksanakanpercobaan dengan langkah-langkah yang ada diLKS, (3) siswa bekerja dengan kelompok masingmasing untuk menyelesaikan tugas yang diberikan,(4) siswa membuat laporan secara kelompok, (5)salah satu kelompok mempresentasikan dan kelompok yang lain menanggapi, (6) diskusi kelas untukmenyimpulkan tujuan dari KBM yang dilaksanakan,dan (7) hasil dari kelompok ditampilkan dipapantulis untuk dinilai oleh guru.Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut diatas ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Namun, selain dapat meningkatkan prestasi belajarsiswa, ternyata pembelajaran dengan menggunakanmodel konstruktivisme dan konteskstual memberikan perubahan sikap mendasar siswa dalam belajarmatematika. Berdasarkan hasil pengamatan penelitisetelah mengikuti pembelajaran dengan model inisiswa merasa senang belajar matematika, lebih cepatmerespon perintah yang ada di LKS, lebih beranimengungkapkan pendapatnya, lebih kritis dalam adupendapat, dapat menghargai pendapat teman yanglain, lebih peduli dengan teman yang mengalami kesulitan dalam mempelajari pokok bahasan tersebut,Siswa lebih mudah menerapkan rumus yang ditemukan pada kehidupan sehari-hari, dan kreativitas siswa lebih berkembang.

KESIMPULAN
Supaya pengajaran lebih menarik dan menyenangkan yang harus dilakukan adalah (1) memilihmodel pembelajaran yang bervariasi seperti modelpembelajaran konstruktivisme dan kontekstual, (2)membangkitkan semangan dan keaktifan siswa, (3)guru hanya sebagai fasilitator, dan (4) mempersiapkan dengan matang model pembelajaran yang akandigunakan.

SARAN
Ada banyak model pembelajaran yang dapatditerapkan pada pembelajaran matematika. Namun,seorang guru harus memilih model pembelajaranyang tepat sehingga siswa memperoleh hasil belajaryang cukup memuaskan. Selain referensi yang rele-van sangat dibutuhkan dalam menunjang penerapanmodel pembelajaran ini, peran serta berbagai pihaksangat menentukan berhasil tidaknya penerapan suatu pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Dahar, R.W. 1989. Teori–Teori Belajar. Jakarta: Erlangga
Hudoyo, Herman. 1990. Strategi Mengajar BelajarMatematika. Malang: IKIP Malang.
---------, Herman (Prof, M.Si). 2005. Belajar Matematika yang Menyenangkan. Makalah disajikan dalam Seminar Lokakarya Matematika RegionalKalimantan Timur yang diselenggarakan YSN KPS Balikpapan, Balikpapan, 3 dan 4 September.
Ibnu, Suhadi. 2004. Evaluasi Dalam ParadigmaPembelajaran Kontekstual. Makalah disajikanpada Sosialisasi PTK untuk guru-guru di lingkungan YSN-KPS Blikpapan.
Kahfi, Muhammad Shohibul (M.Pd). 2004. Pembelajaran Matematika dalam Perspektif Konstruktivistik. Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang.
Ruseffendi, E. T. 1988. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinyadalam Mengajarkan Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung.: Tarsito.
Suparno, P. 1996. Filsafat Konstruktivisme dalamPendidikan. Yogyakarta: Kanisius.

Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Sekolah dengan Cara Perseorangan dan Kelompok Kecil (Model PPKK)

PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH DENGAN CARA PERSEORANGAN DAN KELOMPOK KECIL (MODEL PPKK)

Maxinus Jamey

Abstract:

The main purpose of this research was to develop and produce an n ‘ effective mod:} of mathematics instruction in indivjdualizzed andemall group (IISG model]. The development was carried out through the preliminaty. survey, the second suivey, the thiod survey, and the uy cut. The results of try out showed that USG model has fulfilled the validity. P|*¤¤ticalit:y and -effec1iveness criteria. So, it could be stated that matltematics itzstruetiort with IISG model was etfective. The HSG mudei had syntax cottsistlrtg- of five phases (Lt:. Openingittwoduction; intonation, demonstration, and individual - activities; information and group activities, Evaluation quizzes; Closing). During the individual a.ct·ivities, students did something tieaming to do}, . developed knowledge (learning to know), and developed sei1’—conHdence (]BE1‘l1iI'|g to hc]. In group &ctivitics,·s·h1dents did activities. deveioped knowledge and scif-eomiidenoe, and cominucdtointeatact with other group members (lc arning tu live together).

Key words: individual activities, group activities

Pendahuluan ‘
Pesatrtyzi perkemharigen ilrnu pengetahuan dan ieknoiogi menurdutperubahan kurikulum pendidikati di sekolah. Pembahatt ini jugu tentu akdnberpengsruh pada komponen·komponen pembelajaran. Komponen yang dipengamhi entum Iain guru dan siswa.Gt1ru dnlam kegiatan mengajar belaja: akan bentsahn menciptakan_ siruasi yang kondusif sehingga dapat merangsang motivasi siswe untuk belajar. Namun kadzmgkala usaha guru sering belum mendztpnt tanggapan positifdari siswa dcngmt usaha. belajat yang sunggt1.h~sunggu.l1.

Khusus mma pelajattm rnatemutika, indonesia masih ketinggalan,dibanding dengan bzmyak di dunia, bahkan dengan negate. tetattgga lkita, kits masih ketinggalan dalam pendidikan matematika (Matpaung, ‘1999). Suwarsono (1999] mengentultekext bahwa: matematika masih saja.diattggap sebagai suattu bidang studi yang menakutkan oleh bartyak siswa,dan masib banyak siswa yang mernperoleh basil belajat yang l¤.t.ra.t1g ‘memuaskan. Hal ini merupokan sebuah persoalan besar yang sampaisekatang masih-teijadj peda dunia pendjdilmu matematikadi Indonesia.Kesulitan siswa dalam matematilce. tampak dalam bentuk- hasil evaluasi {nilai) yang rcndah. Xcsulitan-siswa dalam rncmpzlajari matemntika disckolah juga stidak tarlepas dari stratcgi pcngnjaran yang sclama inidiguri¤.kan.di [ndoncsia.,`yaitu snatcgi pcngajaran yang . menggunakzan sistgrn klasikal, dcngan meiode C0]'8.l118.l1 écbagni metcdc utarna.

Scocljadi (2000b) manyatakan bahwa sudah banyakpendapat yang `dikemuknkan clch berbagai pihak yang mcnyatakan bahwa banyak siswa mcngalami kesulitan bclajar matematika. Upayauntuk mcngmsi k¢sul.ium·belajar matcmatika terus diupayakari. Upaya itu dilakukan. a,l, ClE11g8.l'l-`mcmpcrhaiikan pcnycbab késulitan Ucrscbut, baik yang-bcrsun1bci· dnri “diri‘ siswa scndiri"_ muupun dan ulllilf din siswa." Scring kali ha.nya·pcnyebab
knsulitan yang bcrsuxnbcr dari "{lirl siswa szndiri" yang mcndapal: scrntnn tajmn. Pcnychab kcsulitan yang bexswnber dan "lunr dirl siswa":-misalnya"cara penyajla.n" dan "snasana pcmbelaja.ram’¥ ymg dilnknmakain diabaikan, `‘ Scjak dibcrlakiikan Evaluasi Tahap Akhir Nzisinmil dam Ujian Akhir `` `Nasiqnal, tcrnyat:1 hasil ujian mam pclajamn nmtcmatikn masih rendah `(-bcrada di _bnwa.h snandar nilai nasional], bcrakibat banyalqsiswa tidak lulus.
Apalagi tuntman standar nilail kcluliisan dari tahun kc mhun temsditingkntknn.liarcina itu, kcgiatan mcngzqar bclajar maitcxnatika di-jcnjang . pcrsckclahan (dari SLTA kc` bawah) adalah ke:giaQta.n yang hams tems· rncncrus dikaji dan biln pm-ln dipcrbaxui sclaingga scsuai dcngan knndisi `sizwa, tuniutan li¤g|¤.u‘ig¤-¤.. dau tunhatan Standar nilni kclulusam yang dari .
_ tahun ka tahun tems diringkatkan.

Bcrdasarkain kcnyaxam itu, pcrlu pcrhatian atas pcnycbab kcsulitanbelajar yang bersumbcrdaxi "lua1· diri siswa” sepertj yang dikcmukakan blehSuedjadi di alas, misulnya “O8.l`& sajian pc1ajara.n" dan “suasana‘·pcmbc-_ laj¤ran." Pcrbnikan kcgintsm mengajzir belajar (KMB] mcrnpakan faktw _ang-sangai pcnting clan pcrlu mcndapat pcdwiinn. KMB yang harpusai pacla _
guru pcrlu dlubah mcnjndi bnrpusai pad:1 siswn. .. Adu bcbcrapn model pcmbclajam.11 yang KMLBnya berpusat pada siswa,mmm lain model pembclajara.11 kuuperatif, pcmbelajaran i11te1‘akLi_f. pcncm ._- ua.n tcpbiinlying, pcngajamn bcrbasis masalah (prolgkm based insnwcticn),dan model pcmbclajamn intcraktif dcngan setting kcoperaiif {model PISIQ.

Melalui penelitian ini akan dikembangkan model pe.rr1b_elaja1‘an nmtcznatikasek0la11`dc11gm‘1 cam pcrswrangan -da.n- kclompok kccil (rnndcl PPKK];Dalam model PPKK ada aktivitas perseorangan dan aktivitas knlcmpnk yang. dipisahkan sccara ckspilisic. ‘ · -Dari basil uraian diatas pcrmasalzih yang pcrlu dipccahkan-adalah _bagaimana pcngcmbangan dan basil pcngc1nbm1gan_.mnde1 pcmbclajamn -rnatematika dcngnn cara dan kclnmpnk kncil yang efektif.

Maxjnusiacng: Pcngcmbangan Mud¤cl‘Pemlaelajat‘an Matematlkh Sekclahlq " 779. {nilai) yang rcndah. Xcsulitan-siswa dalam rncmpzlajari matemntika disckolah juga stidak tarlepas dari stratcgi pcngnjaran yang sclama inidiguri¤.kan.di [ndoncsia.,`yaitu snatcgi pcngajaran yang . menggunakzan sistgrn __ _ ' . klasikal, dcngan meiode C0]'8.l118.l1 écbagni metcdc utarna. . “ ·_ Scocljadi (2000b) manyatakan bahwa sudah banyakpendapat yang `ikemuknkan clch berbagai pihak yang mcnyatakan bahwa banyak siswa _‘mcngalami kesulitan bclajar matematika. Upayauntuk mcngmsi ksul.ium·belajar matcmatika terus diupayakari. Upaya itu dilakukan. a,l, ClE11g8.l'l-`mcmpcrhaiikan pcnycbab késulitan Ucrscbut, baik yang-bcrsun1bci· dnri “diri‘ siswa scndiri"_ muupun dan ulllilf din siswa." Scring kali ha.nya·pcnyebab `knsulitan yang bcrsuxnbcr dari "{lirl siswa szndiri" yang mcndapal: scrntnn `· `tajmn. Pcnychab kcsulitan yang bexswnber dan "lunr dirl siswa":-msalnya"cara penyajla.n" dan "snasana pcmbelaja.ram’¥ ymg dilnknmakain diabaikan, `‘ Scjak dibcrlakiikan Evaluasi Tahap Akhir Nzisinmil dam Ujian Akhir `` `Nasiqnal, tcrnyat:1 hasil ujian mam pclajamn nmtcmatikn masih rendah `(-bcrada di _bnwa.h snandar nilai nasional], bcrakibat banyalqsiswa tidak lulus.
Apalagi tuntman standar nilail kcluliisan dari tahun kc mhun tems_ ditingkntknn.liarcina itu, kcgiatan mcngzqar bclajar maitcxnatika di-jcnjang .` pcrsckclahan (dari SLTA kc` bawah) adalah ke:giaQta.n yang hams tems· rncncrus dikaji dan biln pm-ln dipcrbaxui sclaingga scsuai dcngan knndisi `sizwa, tuniutan li¤g|¤.u‘ig¤-¤.. dau tunhatan Standar nilni kclulusam yang dari ._ tahun ka tahun tems diringkatkan.
` · n-Bcrdasarkain kcnyaxam itu, pcrlu pcrhatian atas pcnycbab kcsulitanbelajar yang bersumbcrdaxi "lua1· diri siswa” sepertj yang dikcmukakan blehSuedjadi di alas, misulnya “O8.l`& sajian pc1ajara.n" dan “suasana‘·pcmbc-_ laj¤ran." Pcrbnikan kcgintsm mengajzir belajar (KMB] mcrnpakan faktw _- -yang-sangai pcnting clan pcrlu mcndapat pcdwiinn. KMB yang harpusai pacla _guru pcrlu dlubah mcnjndi bnrpusai pad:1 siswn. .
. Adu bcbcrapn model pcmbclajam.11 yang KMLBnya berpusat pada siswa,mmm lain model pembclajara.11 kuuperatif, pcmbelajaran i11te1‘akLi_f. pcncm _ . ._- ua.n tcpbiinlying, pcngajamn bcrbasis masalah (prolgkm based insnwcticn),dan model pcmbclajamn intcraktif dcngan setting kcoperaiif {model PISIQ.
Melalui penelitian ini akan dikembangkan model pe.rr1b_elaja1‘an nmtcznatikasek0la11`dc11gm‘1 cam pcrswrangan -da.n- kclompok kccil (rnndcl PPKK];Dalam model PPKK ada aktivitas perseorangan dan aktivitas knlcmpnk yang dipisahkan sccara ckspilisit.Dari basil uraian diatas pcrmasalzih yang pcrlu dipccahkan-adalah bagaimana pcngcmbangan dan basil pcngc1nbm1gan_.mnde1 pcmbclajamn -rnatematika dcngnn cara dan kclnmpnk kncil yang efektif dan bngaimana pula pcngembangan dan hasil pengcmba.ngan pcrangkm pqzrnbe- _lajarzm matcmatika sesuai dcngan model PPKK. Pernikiran yang mclandasi modal `PPKK,`ya.itu adanya dun situasi. kchidppm rnanusia, yaiiu (I) ·si11.wSi manusia ingin scndiri dan (2) sitnasidalam hakckat social kchidupan manusia yang biasa hidup dalam suatukclumpok scesial dari kclumpok kecil dalam kcluaxga. sampaj dcngnnkclompuk bcsar dalarn masyaraka:. Dua simasi kehidupan manusia. iniéiakcmcclir dalam kclndupan di sckolah {kclas) gada waktu kcgiamnpcmbclajmmdalmusuat1.1kumunitaspembalajara11. · . ‘` Landasan temetis mcdcl PPKK, yaitu (1) twri pcmhclajaran sosial ‘ .yang dikcmukakan ulch Bandur-az ncntang pcngimiiansian, mamg dnpat bclajat . ·. dzngan mcuim cam orang Lain bclajazr, (2) tcuri pcmrcscsan infcmmasi,.mcmbcri pcnckanm pada cara inibrrriasi (ilmu pc11g¤:La.huan) diproscs mulaidari iacncrimaan mclului indm, kcpckazm dan dipmses di dalam diri aiswa{]J¢l'l‘l1‘0SOS$l'l imcmalj dalan; mcrnnri jangka pendek dcngan pcnycsuaian. · déngan infommasi yang sudah ada di mcmuxi janglm panjung, dam disimpankcmbali _d1 mcrrwri jangka. panjang- mu dikcluarkan sabagai jawabau ams _` masalab. Pcmmscsan ini dilakukan dalam alctivitaa pamccrangan. Pcm1·0s¢s— _an dilanjutkan kcrika bcrada dalam aktivitas kelumpok (pcnucaesan _ekstemal}, dan (3) lncori Ki I-Iajar Dcwantara mcrnbcri gagassm bagaimam ` `schamsnya guru bcrtindak pmmk mcmbantu siswa dalam prosyispcmbclajaran, yaitugum bmtlndak sabagai senmng pemirnpin yang berada ·di dcpan mcmbcri contoh, tidak hanya ltmtwlg niatcri pembalajaran yang ·dipelajari juga mcmbcri ccmtoh tentang perilaku yang baik {ing ngarao sung. tulodo), guru bcrada di wngan membangun scmangat kcpada siswa untuk -_ bckerja, belajar (ing madya mangun ka.rs0),- dan bcrada di bclaksng- mcmbcrikan arahzm kcpada siswa untuk dapat bckcrja sccaxa manditl -{tutwuri handayani). ‘ ‘ . .


Metude Pcnelitian
Pe11cl.itia.n.ini adalah pcnclitian pcngembangan. Yang dikcmbangkan`adalah model p¢mbelaja.raa1‘matematika sekolah dengan cam pcrsccrangan ‘‘ dan kclompuk kocil (model PPKK}. Fokus penelitizm ini adalah pengam-bangan model pcmbelajatan sssuai- tujuan utarna penclitian ini, yailgu untuk ‘mcnghasilkan model pmnbclajaran matcmatika dengan cam persccrzmgandan kélompck kccil yang cfcktif.
Subjck ulama -p€11éliIiaJ1 -ada]ah guru dan siswa yang mclalcukankcgintan pmnbglajaran matcmaiika dcngan model PPKK di kclas. Untukmcmpcrnlch data infcmmsi pcndukung data pcnclitian, maka surnher lain. yang clianggap pzrlu unwk dirnintai.keterangaz1finfcm1asi yang bcrkaitan dengan data mama adalah para pengamat. Sekolah tempet pelaksamaaripenelitian (1) SMU Negeri 18 Surabaya, (2) SMU Kalam Kudos Surabaya,[3} SMU Negeri 2 Palu, dan [4) SMU Katolik St. Andreas Palu,Pengernbangan model-PPKK merupakan aktivitas uimima dalam tahap
_ penelitiau peugembongma ini mengocu pada model umum pemcohan masalalr _pendidikan dari Plomp (1997]. Prosedut peuelitiau mengguuakan fase-fasepmgembongm model Plomp yang dilakulcan eebagai berikut:
Faso l. Investigasi Awal, berupa identifkasi dan kajian terhodop (1) Teori temang model pembelaja.ra11, (2) Teori tento11g` Pembelejaren Pemeorongandan Pembelaiaxan Kclompola, (3) Tcori~'l`cori Pembclajarzm yang melaudasi -- modél PPKK, {-11] llasihhaeil peuelitidn yang rolcven, (S] Kajian iéthadap -kondisi kemampuarl slswa dalam kelas, [6) Amlisis mmneri untuk_ .meugident-illkasi, mermci, clan menyusxm seezua sistemazis konsep, atutandau sifat-sifen yang akan dipelujari slswa. Analisis ini diperlukan untukmengofgomsasikaru materi pembelajaran tennasuk sebaran materipembelajaran dalam setiap map muka (KMB). _Fuse 2. Desain, hempa: (1) Menyusun gmis besar u11sur·umur model PPKK.meliputi (a) simoks, (b) sistem sosiel, (0) pririsip reaksi, {d) sistem‘ - pendukung dah -(e) dampak ir1strr.1l

Maxiuus Jaeng; P Model Punbelujaran Maternalilca Sekolah 783
. PA é Percuage of Agreement (PA sebagai tingkat reliabel R), `
A ·= Agreement, yaitu dua pengamat scpakat pada aspelc yang same. · .
D = Disag1·cement,_yaim dun pengamat berbeda pnda aspek yang saum. .·
Bcrich (1994) mcnetapkan rcliabel a.pabilaR 275%. .
Hasil dau Pambahasau .- -
Pengembangzm model PPKK clilaksanakan di beerapa sekciah yangdisebutkan di atas dimgsudkén agar model PPKK tidal: hanye berlaku disekulah tertunha donga krmdisi yang memungkinkan model PPKK dapat · ·· dilaksanakan. Kegiatan pengcxnbangan diIaI

Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Pembagian Bilangan Melalui Model PISK dengan Bantuan Metode Pemberian Tugas Pengajuan Soal (Problem Posing) Di SDN

UPAYA MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PEMBAGIAN BILANGAN MELALUI MODEL PISK DENGAN BANTUAN METODE PEMBERIAN TUGAS PENGAJUAN SOAL (PROBLEM POSING) DI SDN 060857 KELAS III DAN KELAS IV MEDAN

Kms.Muhammad Amin Fauzil
Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Medan, Jl. Willem lslcandar Psr. V Medan, Sumatera Utara

ABS TRAK
Tzyuan dalam penelilian ini adalah untuk mengetahui apakah rnelalui Model PISK denganbantuan metade pemberian tugas pengquan soal (problem posing) model pembelajaranmemenuhi kriteria pencapaian efektf untuk nzengetahui apakah rata-rata penguasaan siswasetiap ke/ompok terhadap bahan ajar semakin meningkat, untuk rnengevaluasi proses ModelPISK dengan menggunakan PTPS pada pokok bahasan pembagian bilangan di kelas [II dan [Kmendeskripsikan proses berj/Ylcir siswa SDN 060085 7 kelos Ill dan IV Medan dalam mengqukansoal. Berdamrkan haxil analisis data penzllis sinqmlkan sebagai lzerikul : ( I). Berdasarkan syaratkeefeklivan model pembe/nyaran ini, disinnzulkan bahwa penzbe/ajaran model PISK denganbantuan pengajuan soal cfektyf (2}Rcs_a0nden Na. 2, 8, 22, 27, 3 I, 37 yang be/unz nzengalamipeningkatan !erus—menerus pada prestasi belajarnya dari pertenzzzan l sampai pertemuan 4, atausekitar I4 % dari junz/ah siswa (=43 siswa) yang be/um nzengalami peningkatan, Namunpenguasan siswa terhaafap bahan eyar secara lceseluruhan baik. Disamping itu kalau di ziryaudari nilai ram-rata T I, T2, T3, dan T4 semakin n1eningkat,(3) soal yang dibzzalnya sudahmengarah kc perscalan nanmn kalimat yang a’ibu¤tnya belum baik, masih menggunalcan bahasasehari-hari, (4) evaluasi prose.; siswa dalam menyelesaikan masalah (soal komeksluab tidaksemua siswa dapat menyelesaikan masalah (saal kontekstuab yang terdapal dalam LKSTrnen1n·u/ba/as waklu yang direnlu/can (I2 menil), (5) secara kcseluruhan siswa dalam mengzyukanpertanyaan /pengquan soal Slldd/1 baik, baik diziryau dari arah pengzjuan soalnya sudah terarah,namun kalimalnya be/um terla/a dengan baik, ini mungkin disebkan oleh kurangnya minal bacasiswa, ada siswa yang belum pandai membaca dengan Iancar.Kata Kunci Model PISK, Pcmbagian, Problem Posing

Pendahuluan
Matcri matcmatika sampai saat ini masihdirasakan sulit dalam mcmahaminya oleh banyaksiswa, bahkan cukup mengkhawatirkan (mcnakutkan)bagi bebcrapa siswa mulai dari sckolah dasar (SD)
sampai siswa tingkat sckolah mcncngah. Sccarakhusus, “pcndidi1an matcmatika yang bcrfungsi
mcndasari pcngcmbangan 11mu Pcngctahuan danTekn010gi’ (1—1ud0j0, 1988 : 1) mcngalami
pcrmasalahan kualitas yang cukup mcngkuatirkan baikdari scgi pcnguasaannya 01ch siswa dan proscspcmbclajarannya 01ch guru. Hal ini dapat dilihat daridata scbagai bcrikut :
1. Pendapat Y. Marpaung (2001) mcnyatakan bahwa,
pennahaman konscp dasar matcmatika sangatlemah, siswa bclum bisa mcmahami formulasigeneralisasi dan konteks kehidupan nyata denganilmu matcmatika.
2. Balitbang Depdiknas Budicmo (Kompas, 8
Desember 2000) saat seminar TIMMS—Rmenyatakan bahwa pengetahuan dan kemampuansiswa Indonesia di bidang mata pelajaranrnatematika dan IPA ternyata sangat rendah.Mcnurut hasil survei pengukuran dan penelitianpendidikan 0Ieh The Third InternationalMathematics and Science Study Repeat (TIMMS—R) tahun 1999, Indonesia berada di urutan 34(matematika) dari 38 peserta yang dinilai.
3. I-Iasil penelitian (Fauzi, 2002) siswa kesulitandalam memahami makna soal cerita, kesulitanalgcritma dan kesulitan apabila hasil baginyamengandung unsur ncl.Hal ini mungkin karena matematika memilikisifat abstrak.
Soedjadi (2OOI : 1) berpendapat bahwa
penyebab kesulitan tersebut bisa bersumber dari dalamdiri siswa juga dari luar diri siswa, misalnya campenyajian matcri pclajaran atau suasana pcmbclgaranyang dilakszmakan, Cara pcnyajizm matcripclajaran mcmbutuhkan model pcndckatan, strategi,tcknik dan matodc untuk mcningkatkan hasil bclajarsiswa.
Modal Pcmbclajaran Intcraktif dcngan settingKoopcratif (modal PISK) mcrupakan hasil dari modelmodiiikasi dari "Intcractivc Learning? Model inimcnckankan pada intcraksi siswa sccarzx luas, yaknisiswa—siswa (S — S), Siswa—Matcri Pclajaran (S—MP),Siswa-Guru (S—G), Siswa—MP— Siswa (S—MP-S) danSiswa-MP—Gu1·u (S—MP—G). Lcbih lcngkap dapat dilihat pada gambar l:

Fungsi guru hanya tcrbatas pada penjclasanterbatas dalam bentuk pertanyaan—pertanyaan yangmerangsang berpikir siswa dan dapat mcnggiring siswapada pemecahan masalah yang dihadapi, schinggakonsep matematika ditcmukan siswa sendiri sebagaireinvention dalam pendekatan realistik berdasarlcanpaham konstruktivis Vygotsky. Hal ini mcinbcrikankemungkinan yang lcbih bcsar kepada setiap siswauntuk dapat memperluas dacrah proksimal terdckat(zone of proximal development = ZPD).
Harapan ini sedikit terganjal apabila siswakesulitan clalam menterjcmah soal khususnya scalpembagian dalam bentuk cerita. Ruseffendi (l988: 177)mengatakan, untuk membantu siswa dalam memahamimakna sca] cerita dapat dilakukan dengan mcnuliskankembali soal dengan kata—kata sendiri, menulis soaldalam bentuk lain atau dalam bentuk yang operasional.
Cars (dalam Perry dan Conroy, 1994) yang ditulisSutawidjaja (1998 :9) menyatakan secara umum untukmeningkatkan kemampuan siswa dalam memecahkanmasalah (menyelesaikan soal cerita) salah sam caraadalah setiap siswa atau kelornpok siswa haruscliberanikan membuat soal atau pertanyaan dalambentuk tugas. Cara yang disarankan Ruseffendi danCars ini merupakan cara yang dikenal dengan istilahpengajuan soal (problem posing), meskipun soal yangdiajukan didasarkan pada soal yang ada atau soalterdahulu.
Dengan memperhatikan fenomena didaktikyang ada di dalam kelas akan terbentuk prosespembelajaran matematika yang tidak lagi berorientasikepada guru (teacher oriented) tetapi beralih kepadapembelajaran matematika yang berorientasi kepadasiswa (student oriented) atau bahkan "ber0rientasi padamasalah", Di dalam pembelajaran matematika realistikprinsip ini disebut "didactical phenomenology? Hal inimendorong siswa mengembangkan pemikiran divergensesuai dengan apa yang dipesankan di dalam kurikulummatematika sekolah dasar berbasis kompetensi(kurikulum Depdiknas, 2002:15)
Tujuan dalam penelitian ini adalah untukmengetahui apakah pembelajaran melalui Model PISKdengan bantuan metode pemberian tugas pengajuansoal (problem posing) memenuhi kriteria pencapaianefektii untuk mengetahui apakah rata—rata penguasaansiswa setiap kelompok terhadap bahan agar semakinmeningkat, dan untuk evaluasi proses pembelajaranModel PISK dengan menggunakan problem posingpada pokok bahasan pembagian bilangan, sertamendeskripsikan proses berfikir siswa SDN 0600857kelas III dan IV Medan dalam menggukan soal.

B. METODE PENELITIAN
Penelitin ini dilaksanakan di SDN 060857 kelasIII dan IV Medan. Sedangkan penelitian clilaksanakanuntuk setiap kelas selama 4 kali pertemuan dan 4 kalites, tes diberikan setiap akhir pembelajaran.Pendekatan yang digunakan adalah pendekatankuanlitatif dan pendckatan kualitatif Pendekatankuantitatif ditujukan untuk mendiskripsikanpenguasaan konsep pembagian bilangan siswa,mendiskripsikan kemampuan memecahkau masalahkontekstual siswa, mendiskripsikan evaluasi prosespembelqaran siswa, dan mendiskripsikan kemampuantugas pengajuan soal, Sementara Pendekatan kualitatifditujukzm untuk mengungkapkan kesulitan yang
dialami siswa dalmn memahami konsep pada pokokbahasan pembagizm bilangan dan cara mengatasinyasebagai upaya untuk menanggulangi kesulitan yangdialami siswa, mendiskripsikan aktivitas dan responsiswa terhadap pembelajaran. Jenis penelitian iniadalah penelitian tindakan kelas (Action Risearch),untuk mendesain model pembelajaran maematikamelihat efektif tidak model pembelajaran yang diclesainKarena penelitian ini merupakan penelitian terapantindakzm. maka gcjala yang akan dilihat dan disclidikiadalah pcncrapan model pcmbclajaran dcnganmanggunakan mctodc Problcm Posing yaitu kctuntasanhasil bclajar, tingkat kcaktifan siswa, tos pcngajuansoal, hasil cvaluasi proscs siswa, proscs bcrtikir siswadan respon siswa tcrhadap pcmbclajaran.Pcmbclajaran Model PISK, matcri Pembagiandan tindakan yang akan dilakukan lcbih jclas dapatdilihat pada Tabcl I.

C. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Dcskripsi Kritcria Efcktivitas
:1. Hasil Bclajar Siswa
Hasil bclajar siswa kelas IV dan kclas III dapatdi lihat pada Tabcl 2. -

Bcrdasarkan Tabcl 2 tcrlihat bahwa kalas
ckspcrimcn telah tuntas bclajar scsuai dengan kritcriakctuntasan bclajar sccara klasikal.
b. Pcncnpaian Tujuan Pembelznjaran Khusus
(TPK)
Dcskripsi pcncapaian Tujuan PcmbelajaranKhusus ( TPK ) untuk kclas ckspcrimcu dan kclaskcntml disajikan pada Tabcl 3.Bcrdasarkan data pada Tabcl 3 di atas dapatdilihat bahwa pada kclas ckspcrimcn ada 90,00% TPKyang tuntas scdangkan pada kclas kcntrcl ada 30,00%TPK yang tuntas. Bcrdasarkan kritcria ketuntasanpencapaian TPK, maka dapat disimpulkan bahwa padakclas ekspcrimcn kctuntasan pcncapaian TPK tcrcapaiscdangkan pada kclas kontml kctuntasan pcncapaianTPK belum tcrcapai.
c. Rcspon siswa terhadap pcmbelajaran

Dari hasil jawaban siswa kclas IV yang tcnuangdalam angket respon siswa dipcrolch rincian scbagaibcrikut :
a. Perasncm siswa terhadap komponcn mcngajar.
b, Pendapat siswa tcntang komponcn mcngajar.
c. Mimzt untuk mcugikuti pcmbclajarzm matcmatikarcalistik bcrikutnya.
dl Komemar siswa terhadap kctcrbacaan danketcrkaitan pcnampilan LKST

Bcrdasarkan data di atas menunjukkan bahwarespon siswa terhadap kcmponen pembelajaranmatematika Model PISK dengan bantuan tugaspengajuan soal adalah positii siswa berminat untukmengikuti pembelajaran berikutnya serta siswa dapatmemehami bahasa dan tertarik pada Lembar KerjaSiswa Terbimbing (LKST).
Pencapaian efektivitas pembelajaran matematikaModel PISK dengan bantuan tugas pengajuan soalyang ditentukan berdasarkan aktivitas pengelolaanpembelajaran, respon siswa, ketuntasan belajar secaraklasikal dan kctuntasan pcncapaian TPK dapat dilihatpada Tabcl 5.3 bcrikut :
Bcrdasarkan Tabcl 4 di atas tcrlihat bahwabcrdasarkan kritcria pcncapaian cfcktivitaspcmbclagaran matcmatika rcalistik dapat disimpulkanbahwa pcmbclajaran matcmatika rsalistik cfcktif`.
d. Ram-rata Penguasaan Siswa pada Sub PokokBahaszm Pembagian setiap KclompokDalam penelitiau tindakan kclas ini siswa dikclompokkan berdasarkan nomor urutau, karcnamcnurut kctcrangan kcpala sckolah pcncmpatan siswakc dalam satu kclas homogcn tanpa ada kclas khusus
atau kclas unggulan. Dari cmpat kali pcrtcmuan dalampcmclitian ini diperclch data scpcrti pada tabcl 5.

Bcrdasarkan Tabel 5 Respcmdsn N0, 2, 8, 22,27, 31, 37 yang bclum mcngalami pcningkatan tcrus-mencrus pada prcstasi bclajamya dari pcrtcmuan lsampai pertcmuan 4, atau sckitar 14 % dari jumlahsiswa (:43 siswa) yang bc-slum mcngalami paningkatan.
Namun penguasan siswa tcrhadap bahan ajar sccarakcscluruhan baik. Di samping itu kalau di tinjau darinilai ratawata Tl, T2, T3, clan T4 semakin mcningkat.
e. Hubungan antara kemampuan pengajuan soal
(Problem Posing) dcngan Prcstasi Bclajar SiswaData Prcstasi bclajar siswa dan data siswamcmbuat pcrtanyaan dari informasi yang dibcrikan diLKST, dianalisis sccara pcnalaran dcskriptii untukmclihat hubungan antara kcmampuan pcngajuan soal(Problem Posing) dcngan Prcstasi Belajar Siswa, Daridata hasil belajar siswa kclas {V, Nilai di atas 85 (ada 9rcspondcn, yaitu R8, R9, R10, Rll, RI7, R20, R2],R22, R35) mangajukan pcrtanyaan yang lcbih baik darircspondcn yang lain, soal yang dibuatnya sudahmcngarah ke pcrsoalan namun kalimat yang dibuatnyabclum baik, masih mcnggunakan bahasa schari—hari.f. Evaluasi Proscs Model PISK denganMcnggunakan PTPS pada Pukok BahasanPembagian Bilangzm di kclas III dan kelas IVHasil pcngamatan cvaluasi proses siswa dalammcnyclcsaikan masalah selama kcgiatan pcmbelajarandapat dilihat pada lampiran 4 di halaman bclakang.Dari tabcl tcrscbut, dari cnam siswa yang diamatidipcrolch dcskriptif cvaluasi proscs siswa dalammcnyclcsaikan masalah scbagai bcrikut;
Pcmzmuan l
Soal n0.l
• Kclima siswa dapat mcnyclesaikan soal no.]mcnurut batas waktu yang ditcntukan (l2 mcnit)
• Ada satu siswa (R27) yang bclum selcsai.
• Tcrdapat dua siswa (R29 dan R27) yang rnasihmcnuliskan apa yang diketaliui s0a| pada mcnit kc—9
Soal no. 2
• Terdapat lima siswa yang dapat mcnyclcsaikan soalno.2 mcnurut batas waktu yang ditcntukan (12mcnit)
• Ada satu siswa (R27) yang masih mcnuliskan apayang dikctahui soal pada mcnit ke—9, dan siswa
tcrscbut tidak dapat mcnyelcsaikan soal no.2 dalamwaktu 12 mcnit
Soal no. 3
• Kacnam siswa dapat menyelcsaikan soal no. 3 dalamwaktu I2 mcnit.
• Ada dua siswa (R9 clan R2) yang dapatmenyclcsaikan soal no. 3 dalam waktu 9 menit
Partcmuan ll
Soal no. l
• Tcrdapat lima siswa yang dapat mcnyclcsaikan soaln0.I mcnurut batas waktu yang ditcntukan
• Tcrdapat satu siswa (R9) yang bclum mcnuliskanapa yang dikctahui dri soal dalam waktu 3 mcnit
• Ada satu siswa (R27) yang tidak dapatmcnyclcsaikan soal n0.1
• Tcrdapat tiga siswa (R35, R29, dan R27) yang masihmcnuliskan apa yang dikctahui soal pada mcnit kc»9
Soal no. 2
• Tcrdapat lima siswa yang dapat mcnyclcsaikan soalno. 2 mcnurut batas waktu yang ditcntukan
• Ada satu siswa (R27) yang tidak dapatmenyclcsaikan soal no. 2
• Ada dua siswa (R29 dan R27) yang masihmenuliskan apa yang dikctahui soal pada mcnit kc-9
Scal no. 3
• Tcrdapat cmpat siswa yang dapat mcnyclcsaikansoal no. 3 mcnurut batas waktu yang ditcntukan, dandua siswa yang Iain (R29 dan R27) tidak dapatmcnyclesaikannya
• Ada satu siswa (R27) yang masih mcnuliskan apayang diketahui soal pada mcnit kc—9
Pcrtcmuan III
Soak nc. I
• Tcrdapat cmpat siswa yang dapat mcnyclesaikans0aI n0.l mcnurut batas waktu waktu yang
ditcntukan .
• Ada siswa (R33, R29 dan R27) yang masihmcnuliskan apa yang diketahui soal pada manit kc—3
dan dua siswa tidak dapat mcnyclcsaikan soalmcnurut batas waktu yang ditentukan
S0aI no.2
• Kccnam siswa dapat mcnyclcsaikan s0aI nc.2 dalamwaktu I2 menit
• Ada satu siswa (R27) yang masih menuliskan apayang dikctahui scal pada mcnit kc—9
Scal no. 3
• Karana kctcrbatasan waktu, soal no.3 dilanjutkan dirumah scbagai tugas rumah
• Pcrtcmuan IV
Scal no. I
• I-Ianya tiga orang siswa ( R9 , R7 dan R33) yangdapat mcnyclcsaikan soal n0.I menurut batas waktuyang ditcntukan, dan cmpat siswa yang Iain tidakdapat mcnyclcsaikannya
• Ada tiga siswa (R9, R35 dan R27) yang masihmcnuliskan apa yang dikctahui s0aI pada mcnit kc-9
Soal nn. 2
• Tcrdapat cmpat siswa yang dapat mcnyelcsaikansoal no.2 mcnurut batas vvaktu yang ditcntukan, dandua siswa Iainnya (R29 dan R27) tidak dapatmcnyclcsaikannya

• Ada satu slswa (R27) yang masih mcnullskan apayang dlkctahul soal pada mcnlt kc—9
Soal no.3
• Karcna kctcrbatasan waktu soal no,3 dllanjutkan dlrumah scbagal tugas rumah
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasll anallsls data pada bahscbclumnya dapat pcnulls slmpulkan scbagal bcrlkut 2
1, Bcrdasarkan syarat kecfcktlvan modelpembclajaran lnl, dlslmpulkan bahwa pcmbclajaranmodel PISK dcngan bantuan pcngajuan soal
cfcktli
2 Rcspondcn N0. 2, 8, 22, 27, 31, 37 yang bclummcngalaml pcnlngkatan tcrus—mcncrus padaprcstasi bclajamya darl pcrtcmuan 1 sampalpcrtcmuan 4, atau sekltar 14 % dari jumlah slswa(=43 slswa) yang bclum mcngalaml pcnlngkatan.Namun pcnguasan slswa tcrhadap bahan ajarsecara kcseluruhan balk. Dl samplng itu kalau dltlnjau darl nllal rata—rata Tl, T2, T3, dan T4
semakln mcnlngkat.
3 Darl data hasll bclajar slswa kclas IV (llhatlamplran 5). Nllal dl atas 85 (ada 9 rcspondcn,yaltu R8, R9, R10, R11, R17, R20, R21, R22, R35)mcngajukan pertanyaan yang lcbih balk darlraspondcn yang laln, soal yang dlbuatnya sudahmcngarah ke pcrsoalan namun kallmat yangdlbuatnya balum balk, maslh mcnggunakan bahasaseharl-hari.
4. Evaluasl proscs slswa dalam mcnyclcsalkanmasalah (soal kcntekstual) yang terdapat padaLKST sama untuk sctlap pclismuan, yaltu darlanam slswa yang dlamatl, tldak scmua slswa dapatmcnyelesalkan masalah (soal kontckstual) yangtcrdapat dalam LKST mcnurut batas waktu yangdltcntukan (12 mcnlt).
5. Sccara kcscluruhan slswa dalam mcngegukanpertanyaan/pcngajuan seal sudah balk, balk dltlnjaudarl arah pcngajuan soalnya sudah tcrarah, namunkallmatnya belum tcrtata dcngan balk, lnl mungklndlsebkan olch kurangnya mlnat baca slswa, adaslswa yang bclum pandal mcmbaca dcngan lancar.
Saran
1. Agar proscs pcmbclajaran dcngan pengajuan soallni lancar, slswa dllatlh oleh guru, khusurlya gurubahasa Indoncsl dalam konteks membuatpcrtanyaan darl lnformasl yang dlbcrlkan.
2. Khsus guru matematika di SD, hendaknya dalammempedoman model pembelajaran ini untukditerapkan perlu clipikirkan, jumlah siswa di kelas.Jumlah siswa di kelas cukup besar (lebih dari 50siswa) akan mempengaruhi diskus kelompoknyaakan ramai, akibatnya menggangu proses
pembelajaran.
3. Bagi peneliti lain yang berminat, hendaknya dicobake materi yang lain dengan menambah frekuensiperteinuan, agar lebih jelas dan akurat evaluasiproses dan proses berpikir siswa dalammenyelesaikan jawaban sehingga data evaluasiproses dan proses berpikir siswa dapat dapatdianalisis Iebih jauh dan akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Armanto, Dian.2000. Memberdayakan PendidikanDasar Matematika : Pendidikan matematikaRealistik, makalah disajikan pada seminar NasionalMIPA di UGM Yogyakarta.FM1PA UGM, UGM,16 September 2000.
Arends, 1997. Design Instructional. New York:Macmilan College. Publishing Company.
Asikin, 2001. Realistik mathematics Education (RME):Prospek dan Altematif Model Pembelajaran.Makalah disarnpaikan pada _ seminar nasionalmatematika di UNNES Semarang 27 Agustus2001.
Beishuizen, M,Gravemeijer & van Lieshout, 1997. TheRole of Contexts and Models in the Developmentof Mathematical Strategies and Prosedure.
Technipress, Culemborg. Netherland.Bell, A.W, 1983. Research on Learning and teachingMathematics. England: NFER Nelson.
Depdikbud, 1984. Petunjuk Pelaksanaan danPengelolaan kurikulum. Dirjen Dikdasmen;Jakarta.Depdikbud, 1994. Kurikulum Pendidikan dasar (GBPPMata Pelajaran Matematika untuk Sekolah dasar):Jakarta.
Depdiknas, 2002. Kompetensi Dasar Mata PelajaranMatematika Sekolah Dasar dan Madrasah
lbtidaiyah.Pusat kurikulum, Balitbang Depdiknas.
Eggen P.D & Kauchak. 1979. Strategies for Teacher.Teaching Content and Thinking Skill. New Jersey:Prentice 1·lall.
Freudenthal 1-1. 1973. Mathematics as an EducationalTask. Dordrecht: Reidel Publishing.
Fauzi, Amin, 2002. Pembelajaran Matematika RealistikPada Pokok Bahasan Pembagian di SD. Tesis.Universitas Negeri Surabaya.
.............,. 2003. Metode pemberian Tugas PengajuanSoal (Problem Solving) dalam Pembelajaran
Matematika Realistilc Pokok Bahasan PembagianBilangan di Kelas IV SDN 060857 Medan, Dana
Rutin, Belum di Publikasikan.
—-—-—-·—----— . 1991. Revisiting Mathematics Education.
Dordrecht: Reidel Publishing.
Gravemeijer K. 1994. Developing RealistikMathematics Education. Utrecht: FreuclenthalInstitute.
»-—— -— ————-— . 1994. Educational Development andDevelopmental Research in MathematicsEducation. JRME. Vol 7 N0. 25, 443-471.
Greer, Brian, 1992. Multiplication and Division asModels of Situations. Queen University: Belfast.
1-lamdani. 1999. Tugas Menulis Jurnal Sebagai Strategidalam Proses Pembelajaran Matematika di SLTP.Makalah. Surabaya.
1-1euvel—Panhuizen, M.1998. Assesment and RealistikMathematics Education. Utrecht: FreudenthalInstitute: Utrecht University.
I-Iudojo 1-1. 1998. Peinbelajaran Matematika MenurutKonstruktivistik. Journal Pendidikan: Malang.
Kastono, S'1`. Mengembangkan kurikulum BerbasisKompetensi. Kompas, 26 April 2002. 1—5———-·—-~---- . 1998. Mengajar Belajar Matematika.Jakarta: Depdikbud.
Kemp, Jerrold E. 1994. Designing EffectiveInstruction. New York: Macmilau CollegePublishing Campany.
Holmes, E.E. 1995. New Directions in ElemenmrySchool Mathematics, Interactive Teaching and
Learning. New Jersey: Prentice Hall, Inc.
Leiken, R & Zaslavsky, O. 1997. Facilitating StudentInteractions in Mathematics in Cooperative
Learning Setting. JRME. Vol. Z8, No. 3 tahun1997.
Marja Vanden I—Ieuvel·Panhuizen, 2000. MathematicsEducation in the Netherlands: A guide tour.Freudenthal Institute, Utrecth University, TheNetherland.
National Council of Teacher of Mathematics. 2000a.
Prinsiples and Standards for School Mathematics.NCTM: Reston VA.
National Council of Teacher of Mathematics. 2000b.Learning Mathematics For A New Century. 2000Yearbook NCTM: Reston VA.
................ ,1996. Assesment and realistikMathematics Education. Freudenthal Institute,Untreeht University, the Netherland.
Nur, dkk, 2000. Pembelajaran Kooperatit`. UniversityPress: Surabaya.