Pemahaman Konsep Volume Bola dengan Model Pembelajaran Kontruktivisme dan Kontektual pada Siswa Kelas III SMP

Pemahaman Konsep Volume Bola dengan Model Pembelajaran Kontruktivisme dan Kontektual pada Siswa Kelas III SMP

Setya Dewi

Abstrak: Students’ changing attitude should be appeared in learning and teaching process.The effective learning would be happened if the teacher placed himself as a fasilitator and let his students be active and creative to find the concept of the knowledge they were learning. It is suggested that the teching material should prepared a problem to be solved and the class atmosphere should be fun, and not frightening. The students asked to be able to construct their knowledge to find the core of the learning they got until they knew the goal of the learning. The teaching model used must be matched with the topic. In teaching volume and total survace area, the writer chose contructive and contextual teaching model. In this teaching model students would do a practice activities to find the pattern of the volum of a sphere by themselves.

Key Words: contructive learning, active, creative and fun

Sebagaimana yang sudah diketahui, matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang cukup memusingkan. Hal ini tidaklah mengherankan karena selama ini pembelajaran matematika masih bersifat konvensional dan monoton. Guru lebih aktif berceramah dibandingkan dengan siswa. Akibatnya, perasaan bosan belajar matematika sewaktu-waktu bisa muncul pada diri siswa. Untuk mengimbangi kebosanan tersebut maka sudah tidak ada cara lain bagi siswa dalam memahami konsep matematika melainkan dengan cara menghafal.
Fakta seperti yang tersebut di atas tenyata dapat memunculkan persepsi siswa yang selalu mengidentikkan matematika dengan rumus. Rumus-rumusyang ada harus dihafal tanpa harus mengetahui tahapan penemuan dan manfaat rumus tersebut. Karena rumus hanya dihafal, maka banyak siswa mengalami kesulitan menerapkan dan memilih rumus tersebut dalam menyelesaikan soal. Terlebih lagi ketika sis wa diminta menyelesaikan beberapa soal pengembangan yang model dan bentuknya tidak seperti contoh soal yang diberikan pada saat guru menerangkan materi tersebut. Akibatnya, prestasi belajar siswa dipastikan jauh dari yang diharapkan.
Ada tiga hal penting yang harus diperhatikan guru dalam mengembangkan pembelajaran matematika, yaitu guru setidaknya harus mengetahui hakikat matematika, hakikat anak, dan cara mengajarkan matematika yang berdasar pada teori yang ada. Ketiga hal tersebut sangat diperlukan bagi guru agar dasar dan tujuan pengajaran menjadi jelas.
Volume bangun ruang adalah sebagian kecil dari materi matematika kelas 3 SMP yang dinilai sulit dipahami siswa, tidak terkecuali materi volume bola. Kesulitan ini dikarenakan banyak dan rumitnya rumus yang harus dipahami siswa. Timbulnya persepsi tersebut karena siswa tidak dilibatkan secara langsung dalam menemukan rumus. Salah satu mo del pembelajaran yang dapat memberikan kesempa tan kepada siswa menemukan rumus volume bola adalah model pembelajaran konstruktivisme dan kontekstual. Dengan menerapkan model pembelaja ran ini diharapkan pembelajaran volume bola yang semula sulit dipahami menjadi menarik, menyenang kan, dan mudah dipahami. Tentu saja di waktu yang akan datang diharapkan siswa merasa senang belajar matematika.
Pemahaman belajar matematika dalam panda- ngan konstruktivistik bisa jadi murid memiliki pe-
mahaman berbeda terhadap pengetahuan matematika bergantung kepada pengalamannya dan perspektif yang dipergunakan dalam menginterpretasikan pe-
ngalaman itu. Keanekaragaman pemahaman dan pe- ngetahuan itu bisa benar atau salah, guru tidak seha-rusnya memaksakan pemahaman yang seragam ke-pada seluruh muridnya. Dari pengalaman yang diala mi oleh siswa, guru mendorong untuk membangun pemahaman matematika yang benar melalui berbagai kegiatan pembelajaran produktif.
Lingkungan belajar matematika dalam pandangan konstruktivistik meliputi (1) menyediakan pengalaman belajar matematika yang dapat mengaitkan pengetahuan matematika yang sudah dimiliki siswa sehingga guru bukanlah satu-satunya sumber pengetahuan melainkan fasilitator, (2) menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar yang berbeda-beda, (3) mengiterpretasikan pembelajaran dengan situsasi yang realistik dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkret, (4) merancang pembelajaran terjadi interaksi dan kerjasama seseorang dengan lingkungannya melalui diskusi, kerja kelompok kecil, diskusi kelompok, penemuan, dan tanya jawab, (5) memanfaatkan berbagai media sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif, dan (6) melibat-
kan murid secara emosional dan sosial sehingga matematika menjadi menarik dan murid mau belajar (Kahfi, 2004).
Prosedur pembelajaran konstruktivitik dalam kelas mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: (1) cari dan gunakan pertanyaan dan gagasan siswa untuk menuntun pelajaran, (2) biarkan siswa mengemukakan gagasannya, (3) kembangkan kepemimpi nan, kerjasama, pencarian informasi, dan aktivitas siswa sebagai hasil proses belajar, (4) gunakan pemikiran, pengalaman, dan minat siswa untuk mengarahkan proses, (5) kembangkan penggunaan alternatif sumber informasi buku paket atau bahan para pakar, (6) usahakan agar siswa mengemukakan sebab-sebab terjadinya peristiwa dan dorong untuk memprediksi akibatnya, (7) carilah gagasan siswa sebelum mempelajari buku teks atau sumber lain, (8) buatlah siswa tertantang dengan konsep dan gagasan mereka sendiri, (9) sediakan waktu yang cukup untuk berefleksi, menganalisa dan menggunakan semua gagasannya, dan (10) doronglah siswa untukmelakukan analisis, mengumpulkan bukti nyata untuk mendukung gagasan dan pengetahuan baru yang dipelajarinya (Kahfi, 2004).

METODE
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Penelitian ini dirancang sedemikian rupa sehingga
guru bertindak sebagai fasilitator. Pembelajaran disesuaikan dengan tingkat berpikir anak didik dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajardengan pengelolaan tempat belajar yang terorganisir,lingkungan serba bicara, dan penilaian yang sebenarnya.
Pembelajaran ini dirancang sedemikian rupasehingga guru harus mengetahui pengetahuan awal
siswa untuk dijadikan dasar bagi informasi baru. Pengetahuan baru diperoleh dari pengalaman dalam pengajaran secara lengkap. Dengan demikian siswamenyelidiki dan menguji semua kemungkinan dengan cara bekerja kelompok, kemudian hasil kelompokdipresentasikan. Untuk itu siswa perlu mempraktekkan pengetahuan dengan cara pemecahan masalah,harus diterapkan secara luas, dan direfleksikanPopulasi penelitian ini adalah siswa kelas 3 SMP Nasional KPS Balikpapan. Sampel penelitian ini adalah kelas 3-4 sebagai kelas perlakuan dan kelas 3-1 sebagai kelas pembanding. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini meliputi wawancara, pengamatan, dan tes.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Penerapan
Sebelum memulai pembelajaran, guru memba gi kelas menjadi beberapa kelompok dengan anggota antara tiga sampai dengan lima siswa. Setelah itu guru, memberikan beberapa bahan percobaan seperti bola plastik diameter sedang, kertas karton satu lembar, beras, gunting, dan lem/selotip. Untuk menanggulangi terhambatnya pembelajaran akibat bahantidak terdistribusi secara merata, guru memeriksa kelengkapan setiap kelompok. Perlu diketahui bahwakeseluruhan pembelajaran model ini menggunakanLembar Kerja Siswa (LKS) yang dibagikan kepadamasing-masing kelompok.
Langkah selanjutnya yaitu meminta siswa memulai kegiatan kelompoknya. Secara umum, lankah-langkah pembelajaran dapat dilihat pada langkah-langkah berikut: (1) siswa membelah menjadidua yang sama, kemudian diukur diameter bola, (2)siswa menentukan jari-jari bola, (3) siswa membuattopi berbentuk kerucut dari kertas karton dengan diameter sama dengan diameter bola dan tinggi samadengan jari-jari bola, (4) siswa mengisi topi tersebutdengan beras hingga penuh, kemudian tuangkan kedalam belahan bola sampai penuh, (5) siswa mengisilangkah-langkah pada LKS sehingga siswa dapatmenentukan rumus volume bola, (6) hasil kelompokditempelkan di papan tulis, (7) salah satu kelompokmempresetasikan hasil kerja kelompoknya sedangkan kelompok yang lain menanggapi, dan (8) bagikelompok yang paling bagus hasil penyajian danselesai tepat waktu diberi bintang sebagai penghargaan.
Selanjutnya guru meminta siswa secara berkelompok membuat kesimpulan dari percobaan yangmereka lakukan yang terdiri atas (1) berapa kali mereka menuangkan beras sehingga belahan bola pe-nuh, (2) mencari perbandingan volume bola dan volume kerucut sehingga medapatkan hubunganvolume bola = … × volume kerucut, dan (3) menuliskan rumus volume bola. Untuk mematangkan pemahaman siswa, guru memberikan beberapa soalyang harus diselesaikan dengan rumus yang telahmereka temukan.
Pembelajaran ini diakhiri dengan meminta setiap siswa membuat laporan tertulis secara individuyang berisikan langkah-langkah yang siswa lakukandan beberapa pengalaman yang dialami sehinggamendapatkan rumus volume bola. Ini sangat pentinguntuk mengukur sejauh mana siswa dapat mempelajari dan memahami konsep volume bola dengan bekerja kelompok.

Hasil
Ternyata, model pembelajaran memberikan hasil yang cukup memuaskan dibandingkan kelas lainyang tidak menggunakan model pembelajaran ini.Berikut ditampilkan nilai kelas yang menggunakanmodel kontruktivisme dan kontekstual (kelas eksperimen) dan kelas yang tidak menggunakan modelkontruktivisme dan kontekstuan (kelas pembanding).

Tabel Daftar Nilai Ulangan Bangun Ruang

Dari tabel di atas padat dilihat bahwa siswa kelas 3-4 yang menggunakan model pembelajarankonstruktivisme dan kontektual mendapatkan nilaidengan rata-rata 61,39. Hal ini cukup menggembirakan dibandingkan dengan kelas 3-1 yang tidakmenggunakan model ini yang hanya memperolehrata-rata nilai kelas sebesar 23,04.

Pembahasan
Secara umun dalam pembelajaran model inisiswa melakukan beberapa hal antara lain (1) siswamempersiapkan alat-alat yang diperlukan untuk me-laksanakan percobaan, (2) siswa aktif melaksanakanpercobaan dengan langkah-langkah yang ada diLKS, (3) siswa bekerja dengan kelompok masingmasing untuk menyelesaikan tugas yang diberikan,(4) siswa membuat laporan secara kelompok, (5)salah satu kelompok mempresentasikan dan kelompok yang lain menanggapi, (6) diskusi kelas untukmenyimpulkan tujuan dari KBM yang dilaksanakan,dan (7) hasil dari kelompok ditampilkan dipapantulis untuk dinilai oleh guru.Dengan mengikuti langkah-langkah tersebut diatas ternyata dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Namun, selain dapat meningkatkan prestasi belajarsiswa, ternyata pembelajaran dengan menggunakanmodel konstruktivisme dan konteskstual memberikan perubahan sikap mendasar siswa dalam belajarmatematika. Berdasarkan hasil pengamatan penelitisetelah mengikuti pembelajaran dengan model inisiswa merasa senang belajar matematika, lebih cepatmerespon perintah yang ada di LKS, lebih beranimengungkapkan pendapatnya, lebih kritis dalam adupendapat, dapat menghargai pendapat teman yanglain, lebih peduli dengan teman yang mengalami kesulitan dalam mempelajari pokok bahasan tersebut,Siswa lebih mudah menerapkan rumus yang ditemukan pada kehidupan sehari-hari, dan kreativitas siswa lebih berkembang.

KESIMPULAN
Supaya pengajaran lebih menarik dan menyenangkan yang harus dilakukan adalah (1) memilihmodel pembelajaran yang bervariasi seperti modelpembelajaran konstruktivisme dan kontekstual, (2)membangkitkan semangan dan keaktifan siswa, (3)guru hanya sebagai fasilitator, dan (4) mempersiapkan dengan matang model pembelajaran yang akandigunakan.

SARAN
Ada banyak model pembelajaran yang dapatditerapkan pada pembelajaran matematika. Namun,seorang guru harus memilih model pembelajaranyang tepat sehingga siswa memperoleh hasil belajaryang cukup memuaskan. Selain referensi yang rele-van sangat dibutuhkan dalam menunjang penerapanmodel pembelajaran ini, peran serta berbagai pihaksangat menentukan berhasil tidaknya penerapan suatu pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Dahar, R.W. 1989. Teori–Teori Belajar. Jakarta: Erlangga
Hudoyo, Herman. 1990. Strategi Mengajar BelajarMatematika. Malang: IKIP Malang.
---------, Herman (Prof, M.Si). 2005. Belajar Matematika yang Menyenangkan. Makalah disajikan dalam Seminar Lokakarya Matematika RegionalKalimantan Timur yang diselenggarakan YSN KPS Balikpapan, Balikpapan, 3 dan 4 September.
Ibnu, Suhadi. 2004. Evaluasi Dalam ParadigmaPembelajaran Kontekstual. Makalah disajikanpada Sosialisasi PTK untuk guru-guru di lingkungan YSN-KPS Blikpapan.
Kahfi, Muhammad Shohibul (M.Pd). 2004. Pembelajaran Matematika dalam Perspektif Konstruktivistik. Malang: FMIPA Universitas Negeri Malang.
Ruseffendi, E. T. 1988. Pengantar Kepada Membantu Guru Mengembangkan Kompetensinyadalam Mengajarkan Matematika untuk Meningkatkan CBSA. Bandung.: Tarsito.
Suparno, P. 1996. Filsafat Konstruktivisme dalamPendidikan. Yogyakarta: Kanisius.